Borong Jalur Prestasi, 70% Santri Ponpes Shuffah Al Jama’ah Tasikmalaya Tembus SNBP dan SPAN-PTKIN

Tasikmalaya – Suasana penuh rasa syukur dan bangga tengah menyelimuti Pondok Pesantren (Ponpes) Shuffah Al Jama’ah, Tasikmalaya. Belasan santri kelas XII berhasil menorehkan prestasi akademik yang membanggakan dengan lolos masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) melalui dua jalur undangan bergengsi, yakni Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) dan Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN-PTKIN).

Keberhasilan gemilang ini rupanya tidak lepas dari peran dan dukungan nyata Program Beasiswa Santri BAZNAS 2025. Program beasiswa unggulan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) ini memang dirancang khusus untuk memfasilitasi dan membina santri-santri berprestasi agar siap bersaing menembus PTN dan kampus favorit. Fasilitas pembinaan yang komprehensif dari BAZNAS terbukti menjadi salah satu katalis penting yang mengantarkan para santri Shuffah Al Jama’ah meraih kampus impian mereka tahun ini.

Melalui jalur SNBP yang menjaring siswa berprestasi secara nasional, tercatat lima santri Ponpes Shuffah Al Jama’ah berhasil diterima di berbagai program studi pada universitas-universitas terkemuka.

Berikut Santri yang Lulus dari Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP)

1. Naufal Daffa Maulana – S1 Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman

2. Muhamad Azmi Fahreza – S1 Pendidikan Jasmani, Universitas Siliwangi

3. Dzakkiyan Muqsith Althaf – S1 Ekonomi Pembangunan, Universitas Siliwangi

4.Azzam Ibrahim Al Ayubi – S1 Ilmu Peternakan, Universitas Padjadjaran

5. Agitska Warotsa Bilqisthi – S1 Pendidikan Masyarakat, Universitas Siliwangi

Menyusul kesuksesan tersebut, kabar gembira kembali datang dari jalur SPAN-PTKIN. Sebanyak delapan capaian kelulusan diraih oleh santri di berbagai Universitas Islam Negeri (UIN) unggulan di Indonesia

Berikut Santri yang Lulus melalui Jalur SPAN-PTKIN

1. Azzam Ibrahim Al Ayubi – S1 Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto

2. Lailatu Syyfa – S1 Pengembangan Masyarakat Islam, UIN Sunan Ampel Surabaya

3. Ruhan Jihadi ZH – S1 Bahasa dan Sastra Arab, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

4. Sayyidah Zulfa Putria – S1 Pendidikan Agama Islam, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

5. Naufal Daffa Maulana – S1 Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Raden Fatah Palembang

6. Nailah Fadiyahtusajidah – S1 Tadris Bahasa Inggris, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

7. Bilal Gaza Al Fath – S1 Pariwisata Syariah, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

8. M. Rizki Zakaria – S1 Bahasa dan Sastra Arab, UIN Sunan Ampel Surabaya

Pencapaian ini membuktikan tingginya daya saing santri Ponpes Shuffah Al Jama’ah di kancah nasional, baik di PTN umum maupun PTN keagamaan. Hebatnya lagi, santri atas nama Naufal Daffa Maulana dan Azzam Ibrahim Al Ayubi berhasil membuktikan kapabilitas mereka dengan lolos di dua jalur sekaligus.

Pihak pesantren menyambut kelulusan ini dengan penuh rasa syukur. Dalam pernyataannya, pihak Ponpes Shuffah Al Jama’ah menyampaikan ucapan selamat dan harapan besar agar pencapaian ini menjadi wasilah (perantara) menuju masa depan yang penuh keberkahan serta kesuksesan, baik di dunia maupun akhirat.

“Semoga pencapaian ini menjadi awal langkah menuju masa depan yang penuh keberkahan, ilmu yang bermanfaat, serta lahirnya generasi Qur’ani yang membawa kebaikan bagi umat,” tulis pernyataan resmi pesantren.

Sebagai pengingat bagi para santri yang akan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, pihak pesantren menyitir hadis riwayat Muslim yang berbunyi, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” Para santri yang telah lulus berpesan untuk terus melangkah dengan niat yang lurus, senantiasa menjaga keistiqamahan, menjadikan ilmu sebagai jalan ibadah, dan tetap rendah hati dalam setiap pencapaian. Barakallahu fiikum!

…إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

Artinya: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri..”

Membangun SDM Unggul di Ponpes Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya dengan 5 Karakter Utama

Pondok Pesantren Shuffah Al-Jama’ah Tasikmalaya dikenal sebagai lembaga pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai keislaman dan pembentukan karakter. Dalam era modern ini, keberhasilan sebuah lembaga tidak hanya diukur dari kualitas ilmu yang disampaikan, melainkan juga dari pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki integritas dan komitmen tinggi. Untuk itu, pesantren ini menerapkan 5 karakter utama yang wajib dimiliki oleh setiap insan yang terlibat di dalamnya. Karakter tersebut adalah: Etikabilitas, Intelektualitas, Elektabilitas, Integritas, dan Loyalitas.

1. Etikabilitas: Merealisasikan Nilai, Norma, dan Tatakrama

Etikabilitas merupakan fondasi awal yang mendasari setiap tindakan. Bagi SDM di Pondok Pesantren Shuffah Al-Jama’ah, ini berarti menjaga etika dalam berkomunikasi, berinteraksi, serta menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab dan kesopanan. Dengan memiliki etikabilitas yang tinggi, setiap individu diharapkan mampu menjadi teladan dalam bersikap santun dan menghormati sesama rekan kerja, santri, serta masyarakat sekitar. Etikabilitas ini menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan profesional, sejalan dengan nilai-nilai Islami yang dipegang teguh oleh pesantren.

2. Intelektualitas: Pola Pikir dan Pemahaman yang Mendalam

Pesantren Shuffah Al-Jama’ah senantiasa mendorong seluruh SDM-nya untuk terus meningkatkan kemampuan intelektual sebagai modal utama dalam menghadapi tantangan zaman. Intelektualitas disini mencakup pola pikir yang kritis dan analitis, kecerdasan dalam menyelesaikan masalah, serta pemahaman yang baik terhadap tugas dan tanggung jawab yang diemban.

Melalui program pelatihan dan pengembangan kompetensi, SDM didorong untuk terus belajar dan berinovasi agar mampu menghadapi dinamika dunia pendidikan yang terus berkembang. Dengan pola pikir yang terbuka serta pemahaman yang mendalam terhadap ajaran agama, para pendidik dan pengurus pesantren dapat menghasilkan inovasi-inovasi yang relevan dengan kebutuhan perkembangan masyarakat.

3. Elektabilitas: Jati Diri dalam Mengemban Amanah

Elektabilitas dalam konteks ini bukan sekadar popularitas, tetapi lebih kepada kemampuan SDM untuk menunjukkan jati diri yang kuat dalam mengemban amanah dan tanggung jawab. Setiap individu di Pondok Pesantren Shuffah Al-Jama’ah didorong untuk memiliki komitmen yang tinggi dan sikap profesional dalam menjalankan peran masing-masing. Dengan demikian, kepercayaan masyarakat dan santri terhadap lembaga ini semakin terjaga, dan pesantren dapat berperan secara optimal dalam mencetak generasi yang berintegritas.

4. Integritas: Konsistensi dan Kejujuran dalam Tindakan

Integritas menjadi nilai kunci yang mengikat seluruh karakter unggul dalam SDM pesantren. Kejujuran, transparansi, dan konsistensi dalam setiap tindakan adalah landasan yang harus dimiliki oleh para pendidik, pengurus, serta seluruh elemen pesantren. Dengan integritas yang tinggi, pesantren tidak hanya mampu menjaga reputasi baik, tetapi juga menciptakan lingkungan yang jujur & terpercaya, sehingga terbangun kredibilitas pesantren di mata masyarakat.

5. Loyalitas: Kepatuhan dan Kesetiaan terhadap Aturan

Nilai loyalitas mengajarkan setiap individu untuk selalu setia dan patuh terhadap aturan yang sudah ditetapkan, baik dalam lingkup internal pesantren maupun terhadap nilai-nilai keislaman yang menjadi pedoman hidup. Loyalitas ini menjadi salah satu modal penting dalam menjaga kesatuan dan kekompakan, sehingga seluruh elemen di Pesantren Shuffah Al-Jama’ah dapat bekerja sama dalam mewujudkan visi misi pesantren untuk mencetak generasi Qurani yang beradab, beriman, dan mampu mengamalkan ilmunya.

Selaras dengan lima karakter SDM unggul tersebut, Pesantren Shuffah Al-Jama’ah juga mengedepankan tetralogi pesantren sebagai Landasan Pembentukan Generasi Qurani bagi santri. Tetralogi yang dimaksud berbunyi “Beradab, Beriman, Beramal, Membentuk Generasi Qurani.”

Dengan mengimplementasikan karakter Etikabilitas, Intelektualitas, Elektabilitas, Integritas, dan Loyalitas dalam keseharian kerja, diharapkan seluruh SDM mampu menjadi teladan dalam bekerja dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan. Sehingga, mereka tidak hanya berkontribusi dalam kemajuan pesantren, tetapi juga berkontribusi dalam mewujudkan visi pesantren untuk mewujudkan generasi qurani dan menjadi agen perubahan positif bagi masyarakat.

Mari bersama membangun SDM berkarakter yang beradab, beriman, beramal, dan berjiwa Qurani untuk kemajuan pesantren dan umat!

Concept Standard Operating Procedure Management (SOPM) by :
Mudirus Shuffah Ust. Hasan Yusuf, S.Pd.,M.Pd

…إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

Artinya: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri..”

Rahasia Self Love dalam Islam oleh Maulida Mawar, santri Ponpes Shuffah Al Jama’ah | Pesantren Terbaik Tasikmalaya

Mencintai diri sendiri atau self-love sering kali menjadi topik yang banyak dibahas dalam kehidupan modern. Namun, dalam Islam, konsep mencintai diri sendiri sejatinya sudah diajarkan sejak dahulu. Islam mengajarkan umatnya untuk menghargai, merawat, dan menerima diri sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. 

Imam Al-Ghazali menyebutkan tingkatan cinta yang paling penting adalah dengan mencintai diri sendiri. Mengapa demikian? Karena mencintai diri sendiri berarti menerima kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri sendiri serta menerima segala yang telah Allah berikan kepada kita.

Ada banyak langkah untuk mencintai diri sendiri, berikut kita akan bahas beberapa langkah mencintai diri sendiri yang sesuai dengan ajaran Islam:

1. Mulai dengan Mengenal Diri Sendiri

Imam Al-Ghazali pernah berkata, “Barang siapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa mengenal diri bukan hanya upaya untuk memahami siapa kita, tetapi juga sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Cobalah untuk menuliskan apa saja kelebihanmu, seperti bakat, keterampilan, atau sifat baik, kemudian identifikasi kekurangan yang ada untuk di evaluasi & perbaiki, tuliskan apa saja ujian yang berhasil kamu lalui & hikmah dibaliknya. Dengan cara ini kita dapat lebih mengerti dan mensyukuri apa-apa yang telah Allah anugerahkan.

2. Menerima Kekurangan Diri

Setiap manusia diciptakan Allah SWT dengan keunikan dan ciri khasnya masing-masing. Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang seseorang merasa kurang puas dengan dirinya sendiri, baik karena faktor fisik, kemampuan, atau keadaan tertentu. Namun, Islam mengajarkan bahwa menerima kekurangan diri adalah bagian dari ibadah hati yang mendekatkan kita kepada Allah SWT. 

Mencintai diri sendiri berarti menerima kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri kita serta mensyukuri apa yang telah Allah berikan. Sebagaimana firman Allah dalam Surah At-Tin ayat 4:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ

“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” 

Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap manusia adalah ciptaan terbaik Allah. Kekurangan yang kita lihat dalam diri sendiri seringkali hanyalah perspektif subjektif. Dalam pandangan Allah, kita telah diberikan tubuh, akal, dan ruh yang sempurna untuk menjalankan misi hidup di dunia.

Dengan menerima kekurangan diri, hal ini bukan hanya bentuk penghargaan terhadap diri sendiri tetapi juga wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat-Nya. Menyadari hikmah dibalik kekurangan serta berhenti membandingkan diri dengan orang lain akan membuat perasaan syukur kita semakin bertambah.

3. Bermuhasabah atau Evaluasi Diri

Mengenal diri juga membutuhkan muhasabah atau evaluasi diri. Muhasabah berarti menilai diri sendiri, baik dari segi perbuatan, niat, maupun pencapaian dalam menjalankan perintah Allah. Melalui muhasabah, seorang Muslim dapat memahami kekurangan, kelebihan, serta potensi yang Allah berikan untuk memaksimalkan ibadah dan amal kebaikan. Selain itu, kita juga bisa menyadari apa yang harus diperbaiki dan apa yang harus dipertahankan.

4. Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Membandingkan diri dengan orang lain hanya akan menimbulkan rasa iri dan kurang percaya diri. Dalam Islam, setiap orang memiliki rezeki, ujian, dan perjalanan hidup yang berbeda.

Fokuslah pada diri sendiri dan jadilah versi terbaik dari dirimu sesuai kemampuan yang Allah berikan. Jangan mengharapkan tepuk tangan orang lain, cukup apresiasi setiap kebaikan kecil yang telah kamu lakukan setiap harinya. 

5. Memperbanyak Amal Baik

Dengan memperbanyak berbuat baik memunculkan nilai positif pada diri sendiri. Memperbanyak amal baik tentunya salah satu mencintai diri sendiri agar terbiasa berbuat kebaikan. Banyak berbuat baik, banyak pula balasan baik yang akan kita dapatkan. Karena kebaikan akan dibalas dengan kebaikan pula, sedangkan kejahatan akan dibalas dengan kejahatan pula. Sebagaimana firman Allah swt dalam QS. Al-Isra Ayat 7 :

…إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا

Artinya: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri..”

Amal baik bukan hanya hal-hal yang besar, bisa kita mulai dari hal-hal yang kecil, seperti berbicara dengan sopan pada orang lain dan hal kecil lainnya.

Tentunya ada banyak cara untuk mencintai diri sendiri. Dengan mencintai diri, kita tidak hanya menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi juga lebih dekat kepada Allah. Jadikan cinta kepada diri sendiri sebagai langkah awal untuk mencintai Allah SWT dan makhluk-Nya. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk terus mencintai diri dengan cara yang diridhai Allah. Aamiin.

Author : Maulida Mawar Taslimah
Cover & Layout : Eva Mutiarani

Copyright © 2025 · Shuffah Al Jama’ah · All Right Reserved